Selasa, 25 November 2014

 Artikel Pembelajaran Agama

Sering kali para guru agama mengeluhkan kurangnya jam agama dalam menyelesaikan materi kurikulum yang ditentukan. Yang terjadi kemudian adalah pembelajaran agama berusaha untuk menyuguhkan materi pembelajaran agar tuntas materinya sehingga tampak suguhan kognitif jauh lebih banyak mewarnai KBM agama. Mereka kemudian menginginkan penambahan jam pembelajaran agar lebih leluasa menyampaikan materi. 

Sebenarnya seberapa banyak pun jam pembelajaran agama ditambah tidak akan menyelesaikan persoalan yang ada jika tidak dilakukan revitalisasi pembelajaran agama. Pembelajaran agama memerlukan suatu terobosan pendekatan pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang mempu menumbuhkan kebermaknaan dan menyenangkan. Bukan yang selama ini dilekatkan atribut pada pembelajaran agama : menjenuhkan dan tidak inovatif. 

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa seorang pembelajara, peserta didik, akan mau dan mampu menyerap materi pelajaran jika mereka dapat menangkap makna dari pelajaran tersebut. Dalam buku Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna karya Elaine B. Jhonson yang diterjemahkan oleh Ibnu Setiawan, disebutkan bahwa CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. (2006: 58)

Para guru agama perlu memahami filosofi CTL ini dan menerapkannya dalam KBM di kelas agar agama tidak menjadi pelajaran menghafal dan dogmatis tanpa bersentuhan dengan konteks kehidupan siswa dan kebermaknaannya. Dalam pelajaran agama, anak memperoleh pengetahuan bahwa Allah SWT mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk menjadikan kehidupannya sebagai ibadah kepada Allah SWT. Inilah tujuan penciptaan kehadiran manusia di dunia. Apakah tujuan ini dimaknai secara benar oleh siswa? Atau sekadar menghafal ayat bahwa hal itu ditemui dalam Al Quran Surat Adzariyat : 56?.

Para guru agama dalam penerapan CTL diharuskan menghadirkan konteks pembelajaran, bukan sekadar isi pelajaran. Isi pelajaran merupakan sesuatu yang akan diperlajari berupa pengetahuan yang hampir tanpa batas dan semua guru agama mengetahui akan hal ini. Isi agar bermakna harus dipelajari dalam konteks. Adapun konteks dalam pemahaman CTL meliputi :
1. Lingkungan yaitu dunia luar yang dikomunikasikan melalui pancaindera
2. Kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi di suatu tempat dan waktu
3. Asumsi-asumsi bawah sadar yang diserap selama siswa tumbuh, dari keyakinan yang dipegang kuat siswa yang diperoleh melalui nilai-nilai yang diterimanya

Pembelajaran isi agama agar relevan hendaknya memperhatikan keselarasan konteksnya. Ketika guru menyampaikan materi tentang beriman kepada Allah SWT, guru hendaknya mengajak siswa pada peristiwa kehidupan yang dapat diungkap oleh siswa, kejadian-kejadian yang menimpa manusia yang tidak beriman, dan kesadaran terhadap firman Allah yang ditulis dalam kitab suci-Nya. Jadi, guru tidak secara dogmatis menyampaikan ayat-ayat yang memerintahkan untuk beriman kepada Allah SWT. Adanya kesadaran setiap siswa untuk selalu beriman kepada Allah SWT hendaknya muncul dari siswa melalui serangkaian pengalaman belajarnya di kelas atau di luar kelas. Dengan begitu Insya Allah akan muncul kesadaran bahwa Allah mengawasinya, Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap perbuatannya, dan seterusnya.

Agar guru selalu memelihara KBM-nya dalam genggaman CTL, guru perlu memastikan 8 prinsip CTL hadir dalam setiap KBM-nya, sebagaimana diungkap Elaine (2006: 65-66):
1. membuat ketrkaitan-keterkaitan yang bermakna
2. melakukan pekerjaan yang berarti
3. melakukan pembelajaran yang diatur sendiri
4. bekerja sama
5. berpikir kritis dan kreatif
6. membantu individu untuk tumbuh dan berkembang
7. mencapai standar yang tinggi
8. menggunakan penilaian yang autentik

Jika hal tersebut dilakukan, pembelajaran akan menjadi mengalir dan bermakna. Nilai-nilai agama akan menjadi kebutuhan bukan kewajiban atau pemaksaan.
             Artikel Melaksanakan Pembelajaran Aktif
 
Pembelajaran Aktif merupakan sebuah konsep pembelajaran yang dipandang sesuai dengan tuntutan pembelajaran mutakhir. Oleh karena itu, setiap sekolah seyogyanya dapat mengimplementasikan dan mengembangkan pembelajaran aktif ini dengan sebaik mungkin. Dengan merujuk pada gagasan dari Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010), berikut ini disajikan sejumlah indikator atau ciri-ciri sekolah yang telah melaksanakan proses pembelajaran aktif ditinjau dari aspek: (a) ekspektasi sekolah, kreativitas, dan inovasi; (b) sumber daya manusia; (c) lingkungan, fasilitas, dan sumber belajar; dan (d) proses belajar-mengajar dan penilaian.


A. EKSPEKTASI SEKOLAH, KREATIVITAS, DAN INOVASI

Prestasi belajar peserta didik lebih ditekankan pada ”menghasilkan” daripada ”memahami”.
Sekolah menyelenggarakan ajang ‘kompetisi’ yang mendidik dan sehat.
Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, po bunga, tempat sampah)
Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis/kapital untuk dijual.
Lebih baik jika ada pameran karya peserta didik dalam kurun waktu tertentu, misalnya sekali dalam satu tahun.
Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah.
Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang.
Sekolah rapi, bersih, dan teratur.
Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah.
Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat.
Sekolah menerapkan seleksi khusus untuk menerima peserta didik baru.
Ada forum penyaluran keluhan peserta didik.
Iklim sekolah lebih demokratis.
Diselenggarakan lomba-lomba antarkelas secara berkala dan di tingkat pendidikan menengah ada lomba karya ilmiah peserta didik.
Ada program kunjungan ke sumber belajar di masyarakat.
Kegiatan belajar pada silabus dan RPP menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif.
Peserta didik mengetahui dan dapat menjelaskan tentang lingkungan sekolah (misalnya, nama guru, nama kepala sekolah, dan hal-hal umum di sekolah itu).
Ada program pelatihan internal guru (inhouse training) secara rutin.
Ada forum diskusi atau musyawarah antara kepala sekolah dan guru maupun tenaga kependidikan lainnya secara rutin.
Ada program tukar pendapat, diskusi atau musyawarah dengan mitra dari berbagai pihak yang terkait (stakeholders).

B. SUMBER DAYA MANUSIA

Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari peserta didik maupun guru.
Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan orang tua/komite sekolah.
Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar.
Guru mengenal baik nama-nama peserta didik.
Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian.
Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik.
Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan kegiatan belajar.
Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik.
Peserta didik banyak melakukan observasi di lingkungan sekitar dan terkadang belajar di luar kelas.
Peserta didik berani bertanya kepada guru.
Peserta didik berani dalam mengemukakan pendapat.
Peserta didik tidak takut berkomunikasi dengan guru.
Para peserta didik bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, dan agama.
Peserta didik tidak takut kepada kepala sekolah.
Peserta didik senang membaca di perpustakaan dan ada perilaku cenderung berebut ingin membaca buku bila datang mobil perpustakaan keliling.
Potensi peserta didik lebih tergali serta minat dan bakat peserta didik lebih mudah terdeteksi.
Ekspresi peserta didik tampak senang dalam proses belajar.
Peserta didik sering mengemukakan gagasan dalam proses belajar.
Perhatian peserta didik tidak mudah teralihkan kepada orang/tamu yang datang ke sekolah.

C. LINGKUNGAN, FASILITAS, DAN SUMBER BELAJAR

Sumber belajar di lingkungan sekolah dimanfaatkan peserta didik untuk belajar.
Terdapat majalah dinding yang dikelola peserta didik yang secara berkala diganti dengan karya peserta didik yang baru.
Di ruang kepala sekolah dan guru terdapat pajangan hasil karya peserta didik.
Tidak ada alat peraga praktik yang ditumpuk di ruang kepala sekolah atau ruang lainnya hingga berdebu.
Buku-buku tidak ditumpuk di ruang kepala sekolah atau di ruang lain.
Frekuensi kunjungan peserta didik ke ruang perpustakaan sekolah untuk membaca/meminjam buku cukup tinggi.
Di setiap kelas ada pajangan hasil karya peserta didik yang baru.
Ada sarana belajar yang bervariasi.
Digunakan beragam sumber belajar.

D. PROSES BELAJAR-MENGAJAR DAN PENILAIAN

Pada taraf tertentu diterapkan pendekatan integrasi dalam kegiatan belajar antarmata pelajaran yang relevan.
Tampak ada kerja sama antarguru untuk kepentingan proses belajar mengajar.
Dalam menilai kemajuan hasil belajar guru menggunakan beragam cara sesuai dengan indikator kompetensi. Bila tuntutan indikator melakukan suatu unjuk kerja, yang dinilai adalah unjuk kerja. Bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, yang digunakan adalah alat penilaian tertulis. Bila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan, tugas (proyek) itulah yang dinilai. Bila tuntutan indikator menghasilkan suatu produk 3 dimensi, baik proses pembuatan maupun kualitas, yang dinilai adalah proses pembuatan atau pun produk yang dihasilkan.
Tidak ada ulangan umum bersama, baik pada tataran sekolah maupun wilayah, pada tengah semester dan / atau akhir semester, karena guru bersangkutan telah mengenali kondisi peserta didik melalui diagnosis dan telah melakukan perbaikan atau pengayaan berdasarkan hasil diagnosis kondisi peserta didik.
Model rapor memberi ruang untuk mengungkapkan secara deskriptif kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik dan yang belum, sehingga dapat diketahui apa yang dibutuhkan peserta didik.
Guru melakukan penilaian ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sekaligus sebagai alat diagnosis untuk menentukan apakah peserta didik perlu melakukan perbaikan atau pengayaan.
Menggunakan penilaian acuan kriteria, di mana pencapaian kemampuan peserta didik tidak dibandingkan dengan kemampuan peserta didik yang lain, melainkan dibandingkan dengan pencapaian kompetensi dirinya sendiri, sebelum dan sesudah belajar.
Penentuan kriteria ketuntasan belajar diserahkan kepada guru yang bersangkutan untuk mengontrol pencapaian kompetensi tertentu peserta didik. Dengan demikian, sedini mungkin guru dapat mengetahui kelemahan dan keberhasilan peserta dalam kompetensi tertentu
Artikel Kimia
Skala Likert adalah suatu skala Psikometrik yang umum digunakan dalam kuesioner, dan merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa survei. Nama skala ini diambil dari nama Rensis Likert, yang menerbitkan suatu laporan yang menjelaskan penggunaannya. Skala Likert dikembangkan oleh Rensis Likert  pada Tahun 1932 dikenal juga dengan nama skala sikap. Skala Likert merupakan skala yang paling banyak dipakai dalam inventori kepribadian karena bentuknya yang simpel dan mudah dalam penggunaannya serta tidak sulit dalam melakukanskoring.Namun demikian, diperlukan kaidah-kaidah tersendiri dalam membuat item pada skala likert.
Skala merupakan perbandingan antar kategori dimana masing-masing kategori diberi bobot nilaiyang berbeda. Dalam statistika, secara umum terdapat 4 jenis skala yakni skala nominal, ordinal,interval, dan rasio.
Psikometrik adalah bidang yang berkaitan dengan teori dan teknik dalam pengukuranpendidikan dan psikologis, mencakup pengukuran pengetahuan, kemampuan, sikap, dan sifatkepribadian. Bidang ini terutama mempelajari perbedaan antar individu dan antar kelompok.
Penelitiannya terutama pada:
  • Pembuatan alat dan prosedur pengukuran, dan
  • Pengembangan dan penyempurnaan pendekatan teoretis terhadap pengukuran.
Kebanyakan dari kerja awal secara teoretis dan terapan dalam psikometrik dilakukan dalam upaya mengukur kecerdasan. Konsep kunci tradisional dalam teori tes klasikal adalah reliabilitas danvaliditas. Alat ukur yang reliabel melakukan pengukuran dengan konsisten, sementara pengukuran yang valid adalah yang mengukur apa yang akan diukur.
Sewaktu menanggapi pertanyaan dalam skala Likert, responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Biasanya disediakan lima pilihan skala dengan format seperti:
-         Sangat tidak setuju ( STS )
-         Tidak setuju ( TS )
-         Netral ( N )
-         Setuju ( S )
-         Sangat setuju ( TS)
Selain pilihan dengan lima skala seperti contoh di atas, kadang digunakan juga skala dengan tujuh atau sembilan tingkat. Suatu studi empiris menemukan bahwa beberapa karakteristik statistikhasil kuesioner dengan berbagai jumlah pilihan tersebut ternyata sangat mirip [2].
Skala Likert merupakan metode skala bipolar yang mengukur baik tanggapan positif ataupun negatif terhadap suatu pernyataan. Empat skala pilihan juga kadang digunakan untuk kuesioner skala Likert yang memaksa orang memilih salah satu kutub karena pilihan “netral” tak tersedia.

Artikel Pelajaran Matematika


 Artikel Pelajaran Matematika

Matematika adalah salah satu ilmu dasar, yang semakin dirasakan interkasinya dengan bidang-bidang ilmu lainnya seperti ekonomi dan teknologi. Peran matematika dalam interaksi ini terletak pada struktur ilmu dan perlatan yang digunakan. Ilmu matematika sekarang ini masih banyak digunakan dalam berbagai bidang seperti bidang industri, asuransi, ekonomi, pertanian, dan di banyak bidang sosial maupun teknik. Mengingat peranan matematika yang semakin besar dalam tahun-tahun mendatang, tentunya banyak sarjana matematika yang sangat dibutuhkan yang sangat terampil, andal, kompeten, dan berwawasan luas, baik di dalam disiplin ilmunya sendiri maupun dalam disiplin ilmu lainnya yang saling menunjang. Untuk menjadi sarjana matematika tidaklah mudah, harus benar-benar serius dalam belajar, selain harus belajar matematika, kita juga harus mempelajari bidang-bidang ilmu lainnya. Sehingga, jika sudah menjadi sarjana matematika yang dalam segala bidang bisa maka sangat mudah untuk mencari pekerjaan.
Kata matematika berasal dari kata “mathema” dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai “sains, ilmu pengetahuan atau belajar.” Disiplin utama dalam matematika di dasarkan pada kebutuhan perhitungan dalam perdagangan, pengukuran tanah, dan memprediksi peristiwa dalam astronomi. Ketiga kebutuhan ini secara umum berkaitan dengan ketiga pembagian umum bidang matematika yaitu studi tentang struktur, ruang, dan perubahan. Pelajaran tentang struktur yang sangat umum dimulai dalam bilangan natural dan bilangan bulat, serta operasi aritmatikanya, yang semuanya dijabarkan dalam aljabar dasar. Sifat bilangan bulat yang lebih mendalam dipelajari dalam teori bilangan. Ilmu tentang ruang berawal dari geometri. Dan pengertian dari perubahan pada kuantitas yang dapat dihitung adalah suatu hal yang biasa dalam ilmu alam dan kalkulus.
Dalam perdagangan sangat berkaitan erat dengan matematika karena dalam perdagangan pasti akan ada perhitungan, di mana perhitungan tersebut bagian dari matematika. Secara tidak sadar ternyata semua orang menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari seperti jika ada orang yang sedang membangun rumah maka pasti orang tersebut akan mengukur dalam menyelesaikan pekerjaannya itu. Oleh karena itu matematika sangat bermanfaat sekali dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak ini dapat menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Dalam pembelajaran matematika siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah.
“Menurut Jenning dan Dunne (1999) mengatakan bahwa, kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real.” Hal ini yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena dalam pembelajaran matematika kurang bermakna, dan guru dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide-ide matematika. Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata, anak dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di kelas sangat penting dilakukan agar pembelajaran matematika bermakna.
Menurut Van de Henvel-Panhuizen (2000), bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari, maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran matematika realistik.
Pembelajaran matematika relaistik pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Pembelajaran matematika harus dekat dengan anak dan kehidupan nyata sehari-hari.
Biasanya ada sebagian siswa yang menganggap belajar matematika harus dengan berjuang mati-matian dengan kata lain harus belajar dengan ekstra keras. Hal ini menjadikan matematika seperti “monster” yang mesti ditakuti dan malas untuk mempelajari matematika. Apalagi dengan dijadikannya matematika sebagai salah satu diantara mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional yang merupakan syarat bagi kelulusan siswa-siswi SMP maupun SMA, ketakutan siswa pun makin bertambah. Akibat dari pemikiran negatif terhadap matematika, perlu kiranya seorang guru yang mengajar matematika melakukan upaya yang dapat membuat proses belajar mengajar bermakna dan menyenangkan. Ada beberapa pemikiran untuk mengurangi ketakutan siswa terhadap matematika.
Salah satunya dengan cara pembelajaran matematika realistik dimana pembelajaran ini mengaitkan dan melibatkan lingkungan sekitar, pengalaman nyata yang pernah dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikan matematika sebagai aktivitas siswa. Dengan pendekatan RME tersebut, siswa tidak harus dibawa ke dunia nyata, tetapi berhubungan dengan masalah situasi nyata yang ada dalam pikiran siswa. Jadi siswa diajak berfikir bagaimana menyelesaikan masalah yang mungkin atau sering dialami siswa dalam kesehariannya.
Pembelajaran sekarang ini selalu dilaksanakan di dalam kelas, dimana siswa kurang bebas bergerak, cobalah untuk memvariasikan strategi pembelajaran yang berhubungan dengan kehidupan dan lingkungan sekitar sekolah secara langsung, sekaligus mempergunakannya sebagai sumber belajar. Banyak hal yang bisa kita jadikan sumber belajar matematika, yang penting pilihlah topik yang sesuai misalnya mengukur tinggi pohon, mengukur lebar pohon dan lain sebagainya.
Siswa lebih baik mempelajari sedikit materi sampai siswa memahami, mengerti materi tersebut dari pada banyak materi tetapi siswa tidak mengerti tersebut. Meski banyak tuntutan pencapaian terhadap kurikulum sampai daya serap namun dengan alokasi yang terbatas. Jadi guru harus memberanikan diri menuntaskan siswa dalam belajar sebelum ke materi selanjutnya karena hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahpahaman siswa dalam belajar matematika.
Kebanyakan siswa, belajar matematika merupakan beban berat dan membosankan, jadinya siswa kurang termotivasi, cepat bosan dan lelah. Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal di atas dengan melakukan inovasi pembelajaran. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain memberikan kuis atau teka-teki yang harus ditebak baik secara berkelompok ataupun individu, memberikan permainan di kelas suatu bilangan dan sebagainya tergantung kreativitas guru. Jadi untuk mempermudah siswa dalam pembelajaran matematika harus dihubungkan dengan kehidupan nyata yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.
 Tujuan Penulisan
Suatu pembelajaran matematika tidaklah sulit, ada cara untuk mempermudah dalam belajar matematika yaitu dengan cara Pembelajaran Matematika Realistik. Dimana pembelajaran ini menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam penulisan makalah ini bertujuan:
1. Untuk mempermudah siswa dalam belajar matematika dapat menggunakan dalam pembelajaran matematika realistik.
2. Guru dalam menyampaikan materi harus mempunyai strategi dalam pembelajaran matematika, supaya siswa tidak bosan dalam pembelajaran matematika.
3. Supaya siswa mengetahui betapa menyenangkan mempelajari matematika.
4. Untuk mengetahui lebih jelas lagi tentang pembelajaran matematika realistik.
5. Untuk memaparkan secara teori pembelajaran matematika realistik.
6. Untuk pengimplementasian pembelajaran matematika realistik.
7. Kaitan antara pembelajaran matematika realistik dengan pengertian.

Artikel Pelajaran BHS.Inggris


                                                        Artikel Pelajaran BHS.Inggris

                Beberapa waktu lalu, munculnya issue tentang penghapusan mata pelajaran bahasa Inggris dalam kurikulum untuk jenjang Sekolah Dasar (SD/MI) sempat menjadi bahan perbincangan yang menghebohkan. Perubahan kurikulum yang rencananya akan dilaksanakan di tahun ajaran 2013-2014 ini menyusul adanya kebijaksanaan tentang pengurangan jumlah mata pelajaran di tingkat sekolah dasar. Pengurangan jumlah mata pelajaran tersebut adalah, dari sebelas mata pelajaran menjadi enam subyek, yakni Agama, Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, Seni dan Budaya, serta Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.  Namun, pengurangan ini baru disepakati untuk siswa kelas 1-3 saja, sedangkan kelas 4-6 masih akan didiskusikan lagi. Menurut Musliar Kasim, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mata pelajaran bahasa Inggris ditiadakan untuk siswa SD karena untuk memberi waktu bagi para siswa dalam memperkuat kemampuan bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing (Kompas.com, 10/10/2012).
Hal ini tentu sangat mengejutkan, mengingat sudah hampir 14 tahun pembelajaran bahasa Inggris dilaksanakan di tingkat SD terhitung semenjak resmi dicetuskan pada tahun 1994. Tentunya tidak mudah untuk memahami kebijakan tersebut mengingat sudah terlalu banyak usaha yang muncul dari pengalokasian APBN dan APBD demi mensukseskan  pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Bisa dikatakan, semua usaha tersebut belumlah sempat mencapai finish, atau hasil yang benar-benar memuaskan dari anak-anak didik di tingkat sekolah dasar dan harus terhenti begitu saja (Okezone.com, 10/10/2012). Pendapat lain datang dari pakar sosio-linguistik dari Universitas Gajah Mada, Kunjana Rahardi, yang menyetujui rencana pemerintah itu, karena menurutnya, pengenalan bahasa asing yang terlalu dini berdampak buruk bagi penguasaan bahasa ibu seorang anak terutama anak di usia kelas 1-3 sekolah dasar. Penguasaan bahasa ibu, baik  bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah yang bagus akan membantu seorang anak belajar bahasa kedua dan ketiga (voaindonesia.com, 12/10/2012).
Menanggapi pro dan kontra dari berbagai pihak tentang kebijaksanaan tersebut,  Musliar Kasim selaku Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kembali memberikan klarifikasi bahwa mata pelajaran bahasa Inggris untuk jenjang SD memang tidak pernah diwajibkan. Untuk itu, tidak ada penghapusan mata pelajaran bahasa Inggris dalam perombakan kurikulum untuk tingkat SD. Ia menambahkan bahwa mata pelajaran bahasa Inggris memang tidak akan dimasukkan dalam enam mata pelajaran wajib untuk tingkat SD dalam kurikulum baru, karena kalau bahasa Inggris ini menjadi mata pelajaran wajib tapi tenaga pengajarnya tidak kompeten maka efeknya tidak baik bagi anak-anak. Kendati demikian, bagi sekolah yang menjadikan bahasa Inggris sebagai muatan lokal atau mata pelajaran tambahan dapat tetap dilakukan selama konten yang diberikan tidak membebani dan dapat diterima baik oleh anak-anak (Kompas.com, 13/11/2012). Berkaitan dengan issue perubahan kurikulum tersebut, tulisan ini hanya ingin mengajak pembaca untuk berfikir tentang manfaat dari pembelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar tersebut serta dampak dari penghentiannya. 
Pembahasan
Kebijakan tentang memasukkan mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar dimulai dengan munculnya kebijakan Depdikbud RI No. 0487/1992, Bab VIII, yang menyatakan bahwa sekolah dasar dapat menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya, asalkan mata pelajaran tersebut tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Kebijakan tersebut disusul dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 060/U/1993 tentang adanya kemungkinan menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal SD dimulai dari kelas 4 SD. Kemudian, menurut Permendiknas No. 22-23/2006 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, menyebutkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di tingkat SD/MI diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi performative. Pada tingkat performative, orang mampu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan.  
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu ditetapkan standar kompetensi bahasa Inggris
bagi SD/MI yang menyelenggarakan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai muatan lokal. Kompetensi lulusan SD/MI tersebut selayaknya merupakan kemampuan yang bermanfaat dalam rangka menyiapkan lulusan untuk belajar bahasa Inggris di tingkat SMP/MTs. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan berinteraksi dalam bahasa Inggris untuk menunjang kegiatan kelas dan sekolah. Pendidikan bahasa Inggris di SD/MI dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa yang digunakan untuk menyertai tindakan atau language accompanying action serta untuk berinteraksi dan bersifat here and now. Topik pembicaraannya berkisar pada hal-hal yang ada dalam konteks sekolah. Tujuan pendidikan bahasa Inggris di SD/MI yang lainnya adalah agar lulusan memiliki kesadaran tentang hakikat dan pentingnya bahasa Inggris untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam masyarakat global. Untuk mencapai kompetensi ini, peserta didik perlu dipajankan dan dibiasakan dengan berbagai ragam pasangan bersanding (adjacency pairs) yang merupakan dasar menuju kemampuan berinteraksi yang lebih kompleks.
 Sebagai muatan lokal, bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang dipelajari setelah bahasa ibu. Dengan kata lain, pengaplikasian serta alokasi waktu yang diberikan ditingkat sekolah dasar  tidak akan melebihi pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Kemudian, bahasa Indonesia itu sendiri tetap digunakan sebagai bahasa pengantar pada mata pelajaran lain kecuali pada sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Melalui sejumlah pengamatan, secara umum, peserta didik di kelas 1-3 terlihat antusias terhadap pembelajaran bahasa Inggris selama pembelajaran tersebut tidak keluar dari patokan yang diberikan di dalam Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, yakni memberikan materi sesuai tingkat literasi performative. Kenyataannya, tes sering menjadi tujuan utama dalam pembelajaran bahasa Inggris serta banyak guru yang mengutamakan tes dalam proses pembelajaran. Guru juga sering terjebak dan terpaku pada buku bahasa Inggris dari penerbit, sehingga tujuan pembelajaran bahasa Inggris seringkali melenceng dari tujuan semula. Selain itu, seharusnya pembelajaran lebih ditekankan pada kosakata yang beragam sesuai dengan konteks kelas dan sekolah dan bukan melulu tentang grammar atau structure, sesuai dengan pendapat Sekretaris Jendral Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti (Kompas.com, 13/11/2012).
Pada dasarnya, menurut Suyanto, peserta didik di tingkat sekolah dasar adalah young learners, dimana tingkat konsentrasi mereka tidak akan lebih dari 90 menit di dalam mengikuti pelajaran, sehingga guru dituntut untuk menyediakan pembelajaran yang menyenangkan (Wulandari, 2012: 2). Selain itu, menurut Cahyono dan Shirly (Wulandari, 2012: 1) penguasaan kosakata bahasa Inggris bagi anak-anak merupakan elemen dasar yang penting untuk kemampuan berbicara, menulis, membaca dan mendengar. Sedangkan menurut Calderon dkk (Wulandari, 2012: 1) kemampuan kosakata bahasa Inggris bagi anak-anak memberikan prediksi tentang kemampuan mereka di tingkat lebih lanjut.
              Sedangkan menurut Itje Chodijah, pendidik dan pelatih guru bahasa Inggris nasional, pembelajaran bahasa Inggris kepada peserta didik tingkat sekolah dasar belum didasarkan pada acuan yang jelas dan penyiapan kompetensi guru yang tepat. Meskipun bahasa Inggris di SD merupakan mata pelajaran muatan lokal, pemerintah tetap perlu membenahi dan memberikan acuan yang jelas di dalam pelaksanaannya (Kompas.com, 30/10/2012). Seharusnya, pembelajaran bahasa Inggris di SD ini mudah, sederhana dan menyenangkan, bertujuaan untuk kesenangan siswa dan memberikan kesadaran bahwa ada bahasa asing sebagai alternatif berkomunikasi untuk menyongsong globalisasi, diantaranya dengan adanya blended learning. Penjelasan Musliar bahwa kompetensi yang diperhitungkan pada siswa SD adalah Calistung sehingga tidak perlu mempelajari ilmu pengetahuan yang terlalu tinggi (Okezone.com, 10/10/2012) adalah tidak tepat, karena pada hakekatnya salah satu tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan daya saing generasi muda dalam masyarakat global. Sehingga perlu adanya pertimbangan untuk meletakkan dasar yang kuat bagi peserta didik kita pada masa periode emas atau di tingkat dasar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Di samping itu pandangan masyarakat tentang perubahan kurikulum yang lagi dan lagi serta terkesan ganti menteri selalu ganti kurikulum tidak akan memburuk jika arahnya tetap menuju ke depan dan bukannya mundur ke belakang.
Kesimpulan
Tentu sangat disayangkan jika pemerintah tidak mengkaji dengan hati-hati masalah perubahan kurikulum terkait dengan pembelajaran bahasa Inggris di tingkat SD. Bukanlah merupakan suatu alasan yang kuat jika pembelajaran bahasa Inggris di tingkat SD dianggap mengganggu perkembangan bahasa ibu, karena pada kenyataannya bahasa Inggris adalah bahasa asing yang merupakan muatan lokal. Kemudian, peserta didik di tingkat SD sedikit banyak sudah pasti telah menguasai bahasa ibu, sebelum mereka duduk di bangku sekolah dasar sehingga pembelajaran bahasa Inggris tidak akan mengurangi penguasaan bahasa Indonesia mereka. Seandainya ada peserta didik yang belajar bahasa Inggris secara khusus di tingkat pre school atau kindergarten, itu merupakan kebijaksanaan dari orang tua itu sendiri, dipicu dengan adanya persaingan antar lembaga pendidikan di tingkat pra sekolah dasar.
Selain itu, seharusnya ada pengawasan dan pembinaan yang lebih intensif tentang pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris terhadap guru sehingga asumsi bahwa bahasa Inggris  membebani siswa dapat dikesampingkan serta dapat menghasilkan output yang optimal. Menurut pendapat penulis, akan sangat terlambat bagi peserta didik jika mereka baru mulai diperkenalkan bahasa Inggris di bangku SMP/Mts, karena masa periode emas adalah masa exposure yang paling tepat, atau setidaknya dapat dimulai pada saat mereka duduk di kelas 4. Tingkat kebutuhan kita terhadap bahasa asing tidaklah sama seperti era 80an, ketika kita baru mulai mengenal pembelajaran bahasa Inggris saat duduk di bangku SMP/Mts, maka seharusnya kita juga tidak perlu mengulang masa-masa dimana gaung go internasional belum merebak seperti sekarang ini.
Pendapat tentang pembelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar dapat mempengaruhi nasionalisme juga dapat dikesampingkan. Kita harus berfikir bahwa bahasa hanyalah merupakan alat komunikasi yang tidak akan melunturkan rasa nasionalisme. Karena masalah nasionalisme adalah masalah pendidikan karakter, rasa kebanggaan terhadap bahasa Indonesia tetap harus  dikuatkan melalui pendidikan karakter pada saat pembelajaran bahasa Inggris giat dilaksanakan. Di samping itu kebutuhan terhadap keterampilan berbahasa Inggris untuk ikut berpartisipasi dalam era komunikasi dan globalisasi sesuai dengan tujuan pendidikan nasional bagi generasi muda tidak akan tercapai jika bahasa Inggris tidak diperkenalkan lebih awal. Akan tetapi, di dalam pelaksanaannya harus disiapkan secara matang mulai dari kurikulum dan tenaga pendidik yang memiliki kemampuan di bidangnya sehingga memiliki arah yang jelas serta tidak membebani peserta didik.
Akhirnya, meskipun nantinya kebijakan pemerintah sudah bulat untuk tidak memasukkan bahasa Inggris pada kurikulum mendatang, ada baiknya jika pemerintah memikirkan serta membuat alternatif lain agar siswa tetap dapat menguasai bahasa Inggris sejak dini mengingat sifatnya adalah bahasa internasional sehingga generasi muda kita tidak jauh tertinggal dan tetap mampu memegang kendali dalam era globalisasi ini.